Upacara Senin

Senin 14 September 2015 Upacara Bendera dilaksanakan di halaman SMAK 3, Pembina upacara kali ini adalah Bpk Y. Heru Prasetyo. Upacara bendera ini adalah rutinitas yang dilakukan oleh semua siswa di semua sekolah pada hari Senin. Upacara juga menjadi instrumen atau alat yang cukup efektif untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai tertentu serta upaya mengaktualkan potensi-potensi anak didik.

Nilai-nilai yang bisa kita dapatkan dari kebiasaan upacara bendera antara lain:

  1. Menumbuhkan potensi kepemimpinan.

Setiap siswa secara bergilir diberi kesempatan untuk tampil memimpin upacara. Sebagai pemimpin upacara, mereka dituntut untuk mampu tampil memimpin upacara. Sebagai pemimpin upacara, mereka dituntut mampu memberikan aba-aba tertentu, dalam satu tahun ajaran seorang siswa dapat memperoleh kesempatan sekali memimpin temannya.

  1. Membangun rasa percaya diri.

Pengalaman membuktikan sebagian siswa masih mengalami demam panggung ketika harus tampil memimpin. Namun, umumnya sikap grogi tersebut akan hilang saat mendapat giliran untuk yang kedua kali dan seterusnya.

  1. Membiasakan hidup tertib dan disiplin.

Pada sebuah kegiatan upacara, terdapat aba-aba, ketertiban, disiplin berbaris dan tata cara yang baku untuk peran pemimpin dan yang dipimpin. Ketika seseorang berperan memimpin harus bisa memainkan peran sesuai posisinya. Begitu juga yang berposisi sebagai yang dipimpin.

  1. Belajar bersosial dengan lingkungan.

Dari kegiatan upacara diharapkan tumbuh kesadaran bahwa pada setiap kelompok sosial, demi tertib sosial terdapat aturan atau norma yang bersifat memaksa sebagai konsekuensi memasuki suatu kelompok sosial.

  1. Menumbuhkan semangat kebersamaan.

Dalam posisi upacara, untuk melanjutkan ke gerakan atau aba-aba berikutnya ditempuh jika aba-aba sebelumnya telah sepenuhnya dilaksanakan. Saat terdapat sebagian siswa yang tidak mematuhi aba-aba, maka gerakan tersebut tidak bisa dikatakan sempurna. Melalui pembiasaan yang demikian, diharapkan tumbuh kesadaran akan kebersamaan.

  1. Membangun sikap tenggang rasa.

Sekali lagi pengalaman membuktikan meski seseorang sebelumnya sudah mempersiapkan diri namun ketika tampil memimpin seringkali masih melakukan kekeliruan. Ternyata berperan sebagai pemimpin tak semudah menerima atau melaksanakan aba-aba. Pengalaman-pengalaman seperti ini akan menumbuhkan kesadaran tenggang rasa.

  1. Belajar bertanggungjawab.

Terdapat sejumlah hal yang harus dilaporkan seperti jumlah, kurang, hadir, dan keterangan masing-masing yang berhalangan hadir. Pemimpin harus secara akurat melaporkannya kepada guru. Yang demikian maksudnya untuk menumbuhkan sikap koreksi dan tanggungjawab.

IMG_3873 IMG_3874 IMG_3875 IMG_3877 IMG_3878 IMG_3880 IMG_3882 IMG_3883 IMG_3884 IMG_3885 IMG_3886 IMG_3887