Follow up Character Building? Moyung Ah

Apa yang muncul pertama kali dipikiran kalian kalau dikatakan                                                                                                 “nanti ada acara follow up character building, kalian bakal dapat sesi-sesi yang berguna”.

Kalau saya sih awalnya mikirnya “ FIX BOSEN “ atau mungkin “mending tidur, moyung”.

Tapi ternyata kegiatan ini gak moyung loh!

Pada tanggal 6 Januari 2017, SMAK 3 PENABUR mengadakan ‘Follow up Character Building’ di GKI Samanhudi. Acara ini diikuti oleh 255 orang siswa dan 16 guru serta dipandu oleh Yayasan Sahabat Lingkungan yang diketuai oleh Ibu Sherly. Pertama-tama seperti biasanya, kegiatan kami diawali dengan renungan. Renungan pagi kami dibawakan oleh Pendeta Nugroho Yudi Rumpoko dari GKI Bintaro.  Walaupun bahasa yang beliau berikan cukup rumit untuk saya mengerti, namun beliau berhasil menyampaikan hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di dalam kehidupan kita. Setelah selesai renungan, kami diminta duduk sesuai dengan kelas masing-masing.

Sejak acara dimulai, pikiran saya dan teman-teman saya sudah negatif, “ah pasti acaranya bosenin”, “paling sesi-sesi gajelas doang”, “gapapa deh bosen yang penting gabelajar”, hal-hal tersebut yang terlintas dipikiran kami, hasilnya sesinya jadi benar-benar membosankan di awal-awal acara. Setelah sesi pertama, kami mendapat waktu untuk istirahat. Pada waktu itulah saya sadar jika saya terus-terusan berpikir ‘ bosen, pengen pulang, pengen tidur’ maka waktu saya disana akan menjadi sia-sia. Akhirnya saya memutuskan untuk berusaha konsen dan mencoba mencari makna dari sesi-sesi yang diberikan. Waktu terus berjalan, dibeberapa sesi saya masih merasa bosan karena bahasa yang digunakan cukup sulit untuk dimengerti ditambah lagi saya duduk tepat dibawah AC dan tangan saya sudah seperti es, konsentrasi saya pun buyar. Saya memutuskan untuk meminjam jaket dan akhirnya saya kembali bisa fokus. Sedikit demi sedikit saya mulai bisa mengikuti. Namun kebingungan saya memuncak. Ada 1 sesi dimana kami diminta menuliskan karangan sepanjang 1 lembar HVS (harus penuh) tentang ‘siapa diri kita’ selama 30 menit. Selain merasa bingung, saya dan teman-teman saya juga merasa kesal “apaan sih ini disuruh ngarang, waktunya sebentar, banyak banget lagi”,“ bukan KBM tapi masih aja dikasih tugas PENABUR style”. Namun akhirnya sesuai kata The Script yaitu ‘take that rage, put it on a page’ saya mulai menulis sekaligus melampiaskan kebetean saya. Mungkin karena saya merasa bete  karena diminta mengarang, saya jadi tidak sadar apa yang saya tulis tiba-tiba sudah 1 lembar penuh. Saya memutuskan untuk membaca ulang karangan saya, alhasil saya baru sadar banyak kesalahan dalam ejaan dan kata yang digunakan. Walau demikian, dari sesi yang satu ini saya jadi belajar untuk jujur dengan diri sendiri serta menghargai waktu yang diberikan.

Acara pun terus berlangsung. Kami tiba di sesi terakhir kami. Sesi ini tentang bullying. Nah sesi ini nih yang mungkin dibilang paling asik bagi kami. Mengapa? Karena penyampaian materinya lewat film Glee setelah itu kami diminta membuat drama singkat (perkelas) tentang bullying. Yah namanya juga remaja, tidak ada drama yang kaya nilai moral, yang ada kami malah becanda-canda saat drama. Tapi setelah semua dramanya selesai, kami diberikan review atas apa yang telah kami tampilkan. Kami diberikan pelajaran-pelajaran tentang hidup ini. Salah satunya yang sangat melekat di kepala saya adalah “ kita hidup didunia ini bersama-sama dengan orang lain, mungkin selama ini kita cuek bahkan kadang ngebully mereka secara gak langsung lewat omongan ataupun perbuatan, padahal seharusnya sebagai sesama manusia kita itu harus bisa saling peduli, saling menghargai, bisa mengolah perkataan serta perbuatan kita, dan saling menjaga satu sama lain, bukan sebaliknya.” Pelajaran ini yang paling melekat bagi saya. Kalau saya paling mendapat makna dari sesi bullying, lain hal dengan teman saya. Saat diminta maju kedepan, seorang dari teman saya berkata “ kalau saya jadi ngerti betapa pentingnya ketenangan itu, saya jadi bisa fokus sama pekerjaan yang saya lakukan, saya juga jadi lebih fokus dengan tujuan saya.” Teman saya yang lainnya juga menceritakan apa yang ia dapatkan, “ saya jadi belajar untuk menerima diri saya, ya beginilah saya, walaupun saya dilahirkan dengan suatu kekurangan tapi yah inilah saya, saya belajar untuk menerima setiap kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri saya.”

Siapa yang menyangka, acara yang ‘malesin banget’ awalnya ternyata memberikan banyak pelajaran bagi saya dan teman-teman saya. Ada lebih dari 1001 perbuatan mulia sederhana yang bisa dilakukan, hal-hal diatas hanya sebagian kecilnya. Semoga kita bisa melakukan hal-hal baik itu terus dan bukan hanya diri kita sendiri, tapi orang-orang disekitar kita ikut melakukannya. Walaupun acara ini diadakan untuk siswa-siswi SMAK 3, tapi semoga lewat perantara tulisan ini, yang membacanya dapat termotivasi juga melakukan perbuatan baik. Selamat berbuat baik.