LIVE IN SMAK 3 – Perjalanan Melengkapi Hidup dengan Cinta

Sampai di Ambarawa kurang lebih jam 04.00 pagi. Sementara museum kereta api yang ingin kami kunjungi buka jam 08.00 pagi. Masih ada banyak waktu. Seperti rencana di awal, jika jalanan lancar dan kami kepagian sampai di lokasi pertama. Maka saya sudah mempersiapkan alternative lokasi yang bisa dikunjungi. Gua Maria Kerep Ambarawa.

Goa Maria Kerep Ambarawa

Tempat ini buka 24 jam, sebagai tempat peziarahan bagi umat beragama katolik. Namun karena penataan lokasinya menarik dan indah, terbuka untuk siapa saja yang datang, maka umat beragama lain pun banyak yang mengunjungi lokasi tersebut. Termasuk kami, yang sebagian besar penganut protestan. Guna berswafoto atau ikut berdoa, menikmati suasana teduh yang dipancarkan oleh bukit doa ini.
Beberapa anak peserta Live In, berkunjung ke peziarahan untuk berdoa adalah hal baru. Menurut saya membawa mereka ke tempat ini penting artinya. Selain menikmati keasriannya, juga bagi perkembangan spiritualitas mereka. Tidak sekedar pergi dan menikmati tempat-tempat wisata pada umumnya saja, tetapi juga berwisata rohani.

Di antara anak-anak ada yang tidak ikut berdoa, tetapi menurut saya, setidaknya tempat ini memberi pengetahuan baru. Bahwa ternyata, ada begitu banyak orang di sekitar mereka yang datang ke tempat itu. Dini hari dalam suasana dingin, untuk berdoa. Teladan bagi pembentukan mental spiritual.

Gua Maria Ambarawa, mendekatkan kebutuhan generasi milenial yang haus spot foto dengan dunia spiritualitas. Kebutuhan hakiki manusia. Setidaknya ini menjadi pengingat bagi mereka yang datang ke tempat tersebut pada kebutuhan hakikinya. Mudah-mudahan demikian yang terjadi pada anak-anak murid saya itu.

Setelah berwisata rohani, kami lanjutkan dengan wisata kuliner. Penyedia layanan ini memiliki tempat khusus di parkiran Gua Maria. Sayangnya, belum banyak yang buka. Mungkin karena telah berakhirnya bulan doa Novena. Sementara, tempat lain juga masih belum buka. Bertepatan juga dengan bulan Ramadhan. Sehingga lokasi ini menjadi satu-satunya harapan bagi kami. Hal ini menjadi keberuntungan bagi seorang ibu yang membuka warung makannya lebih awal dari yang lainnya. Kami serbu, dengan menu favorit soto dan nasi pecel.

Meski harus menunggu beberapa menit museum kereta buka, kami tetap menunggu di depan gerbang. Lelah perjalanan Panjang Jakarta — Ambarawa, belum sepenuhnya terusir. Goa Maria yang baru saja kami kunjungi, dan sarapan pagi, sebenarnya belum benar-benar mengembalikan vitalitas. Sehingga saya masih melihat beberapa diantara mereka kembali mendengkur di bis. Bahkan saya harus beberapa kali mengulangi instruksi untuk masuk ke lokasi museum setelah dibuka, mereka ogah-ogahan karena masih ingin melanjutkan istirahat.

Museum Kereta Api Ambarawa

Hanya dengan sepuluh ribu rupiah, itu pun beberapa orang mendapat diskon 50% karena membawa kartu pelajar, kami memasuki museum. Puluhan lokomotif tua menyambut kami, segera terbawa suasana ke tempoe doeloe.

Dari deretan lokomotif yang dipajang, juga papan informasi yang tersedia di sisi jalan masuk ketika menyusuri museum, kami tahu bagaimana perkembangan perkerataapian di Indonesia. Ternyata, transportasi di zaman colonial tidak kalah dengan apa yang terjadi di Eropa.

Di museum ini juga tersedia perpustakaan kereta. Sayang, tidak buka. Karena kunjungan kami bukan pekan, sehingga tidak banyak layanan museum yang dibuka. Kami juga tidak dapat mencicipi jalan naik kereta diesel ke stasiun Tuntang. Sementara untuk kereta uap, anggaran kami tidak cukup untuk menyewanya.

Meski terbatas, kunjungan ini tetap menyenangkan. Kami bisa membangun memori pada apa yang terjadi di negeri ini puluhan bahkan ratusan tahun silam. Museum menghadirkan pembelajaran penting masa lalu bagi masa kini. Sayangnya banyak yang memanfaatkan masa lalu untuk membungkam masa depan dan bersembunyi dari kebenaran. Padahal semestinya kita berani jujur termasuk pada masa lalu. Karena dengan begitulah kearifan dan kemajuan peradaban dapat terjadi.

Setelah puas mengeksplorasi isi museum, dan tentunya mengambil banyak memori melalui foto, kami dengan riang meninggalkan museum. Menuju tempat utama kami, Live In di dusun Ngaduman.

Dusun Ngaduman

Terletak di punggung gunung Merbabu. Ngaduman boleh di bilang, dusun tertinggi di Kawasan tersebut. Pesonanya luar biasa. Untuk ini, saya sudah mengkisahkannya di ; Pesona dusun di punggung Merbabu. Masyarakatnya terbuka. Inilah satu dari sekian banyak alasan mengapa Ngaduman kembali jadi pilihan saya untuk melakukan program Live In.
Tanggapan masyarakatnya hangat, tidak sedingin hawanya. Ada begitu banyak pelajaran yang dapat dipelajari di dusun ini. Mulai dari hal yang remeh temeh hingga ke persoalan yang bernuansa filosofis. Saya masih ingat ungkapan tetua dusun yang menggoda saya karena “takut” mandi karena hawa dinginnya yang menurut saya keterlaluan. Beliau bilang begini ; “kalau bapak bilang dingin, ya pasti akan kedinginan.” Ungkapan ini sederhana, tetapi setelah saya pikir, benar-benar sarat makna

Di tempat ini, anak-anak menemukan artinya kerja keras. Lantas bersyukur atas keberuntungan yang melingkupi hidup mereka. Generasi milenial ini juga banyak yang belajar artinya menghormati sesama. Meski di garis silsilah mereka bukan siapa-siapa, bagi masyarakat Ngaduman, mereka adalah keluarga. Inilah ketulusan dari masyarakat punggung Merbabu.
Masih ada banyak cinta di tempat ini, yang tidak tergerus oleh hingar bingarnya komersialisasi. Semoga sekembalinya dari tempat ini, para peserta Live In SMAK 3 Penabur Jakarta ini masih membawa cinta itu di dalam hatinya.

Beraktivitas bersama warga Ngaduman
https://www.kompasiana.com/judea/5b2b9176caf7db2d574f0832/perjalanan-melengkapi-hidup-dengan-cinta